Kisah Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam " Abu al- Anbiya' "
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
![]() |
| Gambar hanya ilusi |
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Pada kesempatan kali ini kita akan bercerita tentang Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam. Beliau diberi sebutan dengan abu al-Anbiya', dimana ia dilahirkan di kota Babilonia dari pasangan suami istri, yang dalam al-Quran disebutkan bahwa nama ayahnya adalah Azar.
Kelahiran Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam tersebut bersamaan dengan pengakuan Raja Namrud sebagai Tuhan. Dimana kekufuran Raja Namrud tu sendiri dimulai sejak ayahnya meninggal dan dirinya dinobatkan sebagai seorang raja untuk menggantikan ayahnya di kala itu, yang kemudian dengan kedudukannya tersebut ia mengumumkan pada seluruh penduduknya bahwa ia adalah Tuhan.
Untuk mengelabuhi para penduduknya agar mempercayai dirinya, raja Namrud memberikan segala sesuatu apa saja yang diminta oleh penduduknya yang mengakui ketuhanan-Nya. Jika ada yang meminta emas, dikasih emas, jika ada yang meminta tanah, dikasih tanah, dan lain sebagainya.
Bersamaan dengan lahirnya Nabi Ibrahim dan pengakuan raja Namrud akan ketuhanannya, raja Namrud bermimpi dalam tidurnya, yang dalam mimpinya ia melihat kerajaannya hancur, terbakar sana sini yang membuatnya ketakutan akan hal tersebut. Kemudian sang raja mengumpulkan para penasihat-penasihat kejaan untuk mengetahui apa sebenarnya ta'wil dai mimpi tersebut.
Dari adanya musyawarah tersebut, semua orang mengatakan idak tahu arti dari apa yang telah dimimpikan oleh raja Namrud. Sehingga ada salah satu orang yang mengatakan bahwa ta'wil dari mimpi tersebut dengan mengatakan: "Wahai Namrud, kemungkinan malam ini di Babilonia ada lahir seorang anak yang kelak akan menghancurkan kerjaan Anda".
Kemudian setelah mendengar ucapan salah satu penasihatnya tersebut, raja Namrud mengeluarkan suatu instruksi yang aneh yang menyuruh seluruh tentaranya untuk membunuh anak laki-laki yang lahir pada saat itu di Babilonia.
Kemudian intruksi tersebut didengar oleh Azar slaku salah satu penasihat raja Namrud yang ahli membuat patung, yang pada hari itu bersamaan dengan istrinya yang baru melahirkan Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam dari kandungan . Sehingga Azar bergegas pulang ke rumahnya untuk memberitahu istrinya akan instruksi aneh raja Namrud tersebut agar istrinya membawa Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam ke hutan untuk menyelamatkan Nabi Ibrahim dari bala tentara Namrud yang hendak membunuh semua anak laki-laki yang lahir di kala itu.
Ibu Nabi Ibrahim pun membawa Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam ke hutan sesuai dengan titah suaminya di kala itu. Berjalannya waktu di Babilonia raja Namrud terus menerus mengumumkan dirinya sebagai tuhan sampai ia berumur 70 Tahun.
Pada saat umur raja Narud sudah 70 tahun, Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam berumur 40 tahun dan di utus menjadi seorang Nabi untuk menyampaikan wahyu Allah kepada para penduduk Babilonia.
Namun sebelum ia inoatkan menjadi seorang nabi, Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam semapat merenung dan bertanya-tanya tentang siapa sebenarnya Tuhannya. Bahkan dalam suatu hari saat ia duduk-duduk di hutan ia melihat bulan di malam hari dan bertanya-tanya apakah bulan adalah Tuhannya. Hal tersebut dilakukan hingga terbenam bulan tersebut di pagi hari, yang membuatnya berfikir bahwa bulan bukan lah Tuhannya.
Kemudian pada saat datangnya pagi dan terbitnya matahari yang bersinar dan besar, ia pun bertanya-tanya apakah matahari adalah tuhannya. Pertanyaan tersebut juga terjawab saat terbenamnya matahari di malam hari bahwa matahari bukanlah tuhannya. Sehingga ia pun berksimpulan bahwa bulan dan matahari bukanlah Tuhan yang patut disembah dan ia pun mengatakan bahwa ia berserah dri kepada Tuhan Yang Maha Esa agar dirinya diberikan petunjuk, yang kemudian Allah Taala mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu sebagai penobatan kenabian Ibrahim Alaihi as-Salam.
Pada saat penobatan kenabian, pertama kali yang didakwahi oleh Nabi Ibrahm adalah ayahnya, yang kemudian dilanjutkan pada umatnya. Sebagaimana hal ini Allah taala ceriatakan dalam firman-Nya yang tertera dalam al-Quran surah al-Anbiya' ayat 52-73. Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim datang ke dalam sebuah ruangan yang banyak sekali yang salah satunya adalah patung raja Namrud yang disembah oleh para penduduk Babilonia.
Selain itu, disebutkan dalam ayat tersebut bahwa ketika Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam di dalam ruangan tersebut, beliau melihat ada ayah dan kaumnya sedang di dalam ruangan tersebut. Kemudian Nabi Ibrahim mengelilingi patung-patung tersebut dan ia bercakap pada patung tersebut untuk memberikan bukti pada ayah dan kaumnya bahwa patung-patung yang mereka sembah adalah makhluk yang tidak bisa apa-apa dan tidak pantas untuk disembah. Namun patung-patung tersebut tidak ada yang menjawab antara patung yang satu dengan patung lainnya, yang kemudian Nabi Ibrahim melemparnya dengan batu-batu dan memukul patung-patung tersebut.
Meskipun demikian, patung-patung itu juga tidak bergerak untuk membalas atau marah kepada Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam. Hal tersebut hanyalah makhluk yang tak bernyawa yang tak pantas untuk disembah oleh manusia. Kemudian seraya Nabi Ibrahim berkata pada ayah dan kaumnya sebagaimana tertera dalam ayat 52:
إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ
"(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (Al-Anbiya 21:52)
Dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim memberikan perjelasan kepada ayah dan kaumnya, bahwa patung-patung yang mereka sembah bukan lah Tuhan, melainkan ia makhluk mati yang tidak bisa apa-apa dan bahkan tidak dapat membalas cacian dan lemparan Nbai Ibrahim. Namun, meskipun demikian para kaum Nabi Ibrahim tetap bersikukuh dengan mengatakan sebuah pertentangan sebagaimana hal tersebut diceriatakan oleh Allah pada ayat 53:
قَالُوا۟ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَٰبِدِينَ
"Mereka menjawab: "Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya". (Al-Anbiya 21:53)
Pertentangan kaum nabi Ibrahim tersebut, dijawab oleh Nabi Ibrahim untuk meyakinkan bahwa mereka berada dalam kesesatan telah menyembah patung yang tidak bisa apa-apa. Sebagaimana hal tersebut diceriatakan oleh Allah dalam firman-Nya pada ayat yang ke-54:
قَالَ لَقَدْ كُنتُمْ أَنتُمْ وَءَابَآؤُكُمْ فِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ
Ibrahim berkata: "Sesungguhnya kamu dan bapak-bapakmu berada dalam kesesatan yang nyata". (Al-Anbiya 21:54
Kemudian para kaum Nabi Ibrahim pun bingung dan penasaran yang membuat mereka bertanya tentang kebenaran berita yang dibawa nabi Ibrahim Alaihi as-Salam, sebagaimana pertanyaan tersebut juga Allah sebutkan dalam ayat yang ke-55:
قَالُوٓا۟ أَجِئْتَنَا بِٱلْحَقِّ أَمْ أَنتَ مِنَ ٱللَّٰعِبِينَ
"Mereka menjawab: "Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?" (Al-Anbiya 21:55)
Nabi Ibrahim pun terus meyakinkan ayah dan para kaumnya, bahwa Allah Taala lah satu-satunya Dzat yang berhak disembah. Dia yang menciptakan langit dan bumi, serta apa-apa yang ada di dalamnya. Hal ini dapat kita lihat pada ayat yang ke-56:
قَالَ بَل رَّبُّكُمْ رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ٱلَّذِى فَطَرَهُنَّ وَأَنَا۠ عَلَىٰ ذَٰلِكُم مِّنَ ٱلشَّٰهِدِينَ
Ibrahim berkata: "Sebenarnya Tuhan kamu ialah Tuhan langit dan bumi yang telah menciptakannya: dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu". (Al-Anbiya 21:56)
Kemudian setelah berkali-kali meyakinkan ayah dan kaumnya, mereka malah meninggalkan Nabi Ibrahim sendirian di dalam ruangan tersebut. Nabi Ibrahim pun mencegah dan berjanji akan membuat tipu daya terhadap patung-patung yang disembah oleh ayah dan kaumnya, namun ayah dan kaumnya tidak mau mendengarnya dan tetap meninggalkan Nabi Ibrahim di tempat tersebut. Janji tipu daya Nabi Ibrahim Allah ceritakan yang dapat dilihat pada ayat yang ke 57:
وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَٰمَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا۟ مُدْبِرِينَ
"Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya". (Al-Anbiya 21:57)
Tidak lama setelah Nabi Ibrahim ditinggalkan oleh ayah dan para kaumnya di ruangan tempat patung-patung tersebut, Beliau mengambil sebuah kapak dan menghancurkan semua patung-patung yang ada di dalamnya kecuali patung terbesar, yakni patung raja Namrud yang ada di tengah-tengah ruangan tersebut. Kemudian meletakkan kepala patung-patung ular, singa dan lainnya beserta kampak yang digunakan untuk menghancurkannya di pahanya patung Namrud. Hal ini dilakukan oleh Nabi Ibrahim atas sepengetahuan penjaga ruangan tersebut, namun ia takut untuk mencegahnya, dimana pengahncuran tersebut dilakukan semata-mata untuk memberikan bukti pada kaumnya dan agar kaumnya kembali bertanya kepada Beliau, sebagaimana hal ini diceritakan oleh Allah Taala dalam ayat yang ke-58:
فَجَعَلَهُمْ جُذَٰذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ
"Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya". (Al-Anbiya 21:58)
Pada esok harinya, ketika para kaum nabi Ibrahim Alaihi as-Salam kembali ke kuil untuk melakukan ritual ibadah mereka, mereka menemui bahwa patung-patung mereka hancur berantakan. Seraya mereka bertanya-tanya siapa yang sebenernya telah melakukan semua itu, yang pada akhirnya si penjaga menjawabnya bahwa yang melakukannya adalah Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam. Hal ini sebagaimana Allah kutip perkataan mereka dalam firman-Nya yang terletak pada ayat yang ke-59 dan 60:
قَالُوا۟ مَن فَعَلَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَآ إِنَّهُۥ لَمِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Mereka berkata: "Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim". (Al-Anbiya 21:59).
قَالُوا۟ سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُۥٓ إِبْرَٰهِيمُ
Mereka berkata: "Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim". (Al-Anbiya 21:60)
Kemudian para kaum Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam memanggil beliau dan membawanya kepada sekumpulan kaum yang banyak agar disaksikan oleh mereka bahwa Nabi Ibrahimlah yang melakukannya. Setelah berkumpul semuanya, seraya kaum Nabi Ibrahim bertanya pada beliau akan kebenaran bahwa Nabi Ibrahim telah melakukan penghancuran patung-patung tersebut. Cerita ini dikutip oleh Allah pada ayat yang ke-61 s/d 62:
قَالُوا۟ فَأْتُوا۟ بِهِۦ عَلَىٰٓ أَعْيُنِ ٱلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ
Mereka berkata: "(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan". (Al-Anbiya 21:61)
قَالُوٓا۟ ءَأَنتَ فَعَلْتَ هَٰذَا بِـَٔالِهَتِنَا يَٰٓإِبْرَٰهِيمُ
Mereka bertanya: "Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?" (Al-Anbiya 21:62)
Lalu Nabi Ibrahim pun menjawab dengan kata sindiran dengan menyalahkan patung besar Namrud yang tidak hancur sendirian yang sedang memegang sebuah kapak dengan tuduhan bahwa patung besarlah yang melakukannya pada patung yang lainnya, dan kemudian Nabi Ibrahim menyuruh kaumnya untuk menanyakan kepada patung besar tersebut terkait dengan siapa yang melakukannya. Di sisi lain, Nabi Ibrahim terus mengingatkan kaumnya bahwa patung yang mereka sembah adalah makhluk yang tidak bisa apa-apa, yang kemudian sebagian para kaumnya menundudukan diri dan sadar akan apa kesalahan yang telah dilakukannya. Hal ini diceritakan oleh Allah Taala pada ayat ke 63 s/d 76:
قَالَ بَلْ فَعَلَهُۥ كَبِيرُهُمْ هَٰذَا فَسْـَٔلُوهُمْ إِن كَانُوا۟ يَنطِقُونَ
Ibrahim menjawab: "Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara". (Al-Anbiya 21:63).
فَرَجَعُوٓا۟ إِلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ فَقَالُوٓا۟ إِنَّكُمْ أَنتُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata: "Sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)". (Al-Anbiya 21:64).
ثُمَّ نُكِسُوا۟ عَلَىٰ رُءُوسِهِمْ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا هَٰٓؤُلَآءِ يَنطِقُونَ
"Kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata): "Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara". (Al-Anbiya 21:65)
قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكُمْ شَيْـًٔا وَلَا يَضُرُّكُمْ
Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?" (Al-Anbiya 21:66).
أُفٍّ لَّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ ۖ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Ah (celakalah) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami? (Al-Anbiya 21:67).
Namun sebagaian yang lain bimbang dan bersikeras untuk melaporkan Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam kepada raja Namrud yang mereka yakini sebagai tuhan di kala itu, yang membuat Nabi Ibrahim mengatakan bahwa tidak usah dilaporkan akan kejadian tersebut, akat tetapi nabi Ibrahim lah yang bersedia untuk langsung menemui sang raja.
Dalam sebuah atsar disebutkan bahwa sang raja memiliki kebiasaan pada setiap pagi ia berada di belakang tirai dan di depannya ada banyak penduduknya yang jikalau tirau itu dibuka, maka semua penduduk yanga da di baliknya bersujud pada Namrud yang mengaku Tuhan.
Di pagi hari setelah itu, Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam juga mengikutkan dirinya kepada ruangan penyembahan raja Namrud oleh penduduknya. Kemudian setelah diangkatnya tirai, semua orang sujud kepada Namrud kecuali Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam, yang mana pada saat itulah pertama kali ada seorang yang berani untuk tidak sujud kepada Namrud yang mengaku Tuhan.
Namrud pun bertanya-tanya kegirangan terkait dengan Nabi Ibrahim yang telah berani untuk menolak ketuhanan Namrud. Kemudian dengan keberanian Nabi Ibrahim, beliau berkata dengan lantang menangkis perkataan Namrud dan mengatakan bahwa pengakuan Namrud sebagai Tuhan adalah sebuah kebathilan yang tidak patut untuk diimani dan meberikan keyakinan bahwa diri Namrud adalah manusia biasa yang sama dengan manusia lainnya, serta Nabi Ibrahim juga mengatakan pada Namrud bahwa Allah Taala adalah Tuhan alam semesta yang tidak ada sekutu bagi-Nya, Tuhan yang menghidupkan dan mematikan semua manusia.
Kemudian Namrud pun menangkal dengan membuat akal-akalan semata untuk menandingi Allah Taala dalam hal menghidupkan dan mematikan manusia dengan menyuruh salah satu pengawalnya untuk menangkap 2 orang yang lewat di depan istana, yang kemudian satu dari mereka di bunuh dan yang lain dibiarkan hidup sebagai akal-akalah Namrud bahwa ia dapat mematikan dan menghidupkan, padahal yang pada dasarnya orang yang dihidupkan pada awalnya memang orang hidup. Begitulah tipu daya yang dilakukan oleh Namrud untuk melawan Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam.
Setelah itu, Jibril Alaihi as-Salam datang menyampaikan pada Ibrahim bahwa Namrud adalah orang yang percuma saja jika diajak debat di dunia ini dan menyuruh Nabi Ibrahim untuk menantangnya dengan hal-hal yang terjadi di langit. Nabi Ibrahim pun manantang Namrud dengan meyakinkan terlebih dahulu bahwa Allah Taala adalah Tuhan Yang Berhak Disembah dan bisa memindahkan matahari dari timur ke barat, yang kemudian Nabi Ibrahim menantang Namrud untuk melakukan hal yang demikian, yang membuat Namrud tidak bisa berkata apa-apa dan jengkel terhadap Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam.
Karena rasa jengkel tersebut, Nabi Ibrahim pun di tangkap dan dipenjarakan oleh Namrud, serta Namrud juga berencana untuk membunuh Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam. Kemudian sang raja bermusyawarah dengan para pengawalnya terkait dengan proses pembunuhan Nabi Ibrahim yang bisa dikenang dan dilihat oleh orang banyak karena menentang Namrud.
Dari hasil perbincangan yang dilakukan dalam kerajaan menghasilkan sebuah kesepakatan bahwa pembunuhan berencara terhadap Nabi Ibrahim tersebut akan dilakukan dengan cara memasukkan Nabi Ibrahim ke dalam api yang besar. Bahkan dalam riwayat Bukhori dijelaskan saking besarnya Api yang digunakan untuk membunuh Nabi Ibrahim, diibaratkan bahwa jika ada burung yang lewat di atas setinggi apapun kalau kenak asapnya maka akan terpanggang saking besarnya Api tersebut.
Kemudian dilakukan lah pembunuhan tersebut disaksikan oleh seluruh penduduk Babilonia dan dilemparkannya Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam pada api yang sangat besar tersebut dan Namrud membiarkannya selama tiga hari. Namun Allah Taala memerintahkan api yang membakar Nabi Ibrahim untuk menjadi dingin. Hal ini sebagaimana Allah Taala ceriatakan dalam ayat yang ke- 68 s/d 69:
قَالُوا۟ حَرِّقُوهُ وَٱنصُرُوٓا۟ ءَالِهَتَكُمْ إِن كُنتُمْ فَٰعِلِينَ
Mereka berkata: "Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak". (Al-Anbiya 21:68).
قُلْنَا يَٰنَارُ كُونِى بَرْدًا وَسَلَٰمًا عَلَىٰٓ إِبْرَٰهِيمَ
Kami berfirman: "Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim", (Al-Anbiya 21:69).
Setelah hari ketiga, Namrud dan para penduduk Babilonia memadamkan api tersebut dan menemukan Nabi Ibrahim masih hidup di tengah-tengah tungkuan tersebut. Namrud pun bingung kenapa hal tersebut terjadi dan pulang ke istananya, yang kemudian tersebarlah berita di Babilonia bahwa Namrud tidak bisa membunuh Nabi Ibrahim karena ditolong oleh Tuhannya.
Sesampai di istana, Namrud pun berfikir sambil mabuk-mabukan dan kebingungan mencari cara lain untuk membunuh Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam. Allah Taala pun menjadikan seekor lalat mengganggu Namrud dan menyuruh prajuritnya untuk membunuh lalat tersebut, namun tidak bisa. Hingga Namrud lelah dan hendak tidur di singgasananya, yang kemudian Allah Taala menhendaki lalat tersebut memasuki lubang hidung Namrud hingga ke otaknya selama tiga hari.
Selama tiga hari Namrud dimasuki oleh seekor lalat, ia tak henti-henti berusaha untuk megeluargkannya, hingga pada akhirnya karena hal tersebut Namrud meninggal dunia dan tersebar berita di kalangan penduduk Babilonia bahwa Namrud yang telah mengaku Tuhan meninggal dunia karena seekor lalat.
Kemudian setelah Namrud meninggal, nabi Ibrahim Alaihi as-Salam bersama istrinya Sarah dan keponakannya Nabi Luth hijrah ke negeri Syam, dimana Nabi Ibrahim dan Istri tinggal di Palestin dan Nabi Luth tinggal di Mu'tafikah. Dimana ke dua tempat tersebut bisa ditempun selama 1 hari perjalanan (lihat tafsir Jalalain). Hijrahnya Nabi Ibrahim ini diceritakan oleh Allah Taala dalam ayat yang ke-71:
وَنَجَّيْنَٰهُ وَلُوطًا إِلَى ٱلْأَرْضِ ٱلَّتِى بَٰرَكْنَا فِيهَا لِلْعَٰلَمِينَ
"Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia". (Al-Anbiya 21:71)
Saat Nabi Ibrahim dan Sarah hijrah ke Palestin, pada suatu hari beliau ingin pergi ke Mesir. Dimana saat itu Mesir dikuasai oleh raja yang dzalim, yakni sang raja suka mengambil istrinya orang. Sehingga sebelum masuk kota Mesir Nabi Ibrahim menceritakan tentang kedzaliman raja tersebut pada Sarah dan menyruruh Sarah untuk mengaku dirinya adalah saudari (maksudnya saudari seiman) Nabi Ibrahim pada saat bertemu prajurit raja. Hal tersebut dikarenakan di Mesir kala itu memang banyak prjurit raja yang berkeliling kota dan suka mengambil istri orang untuk dihadiahkan kepada rajanya.
Kemudian setelah masuk kota mesir, dengan hikmah Allah Taala prajurit raja pun melihat Sarah yang sangat cantik dan mendatanginya. Setelah itu prajurit pun bertanya kepada Nabi Ibrahim tentang siapa dirinya, dan sesuai dengan kesepakatan yang dibuat Nabi Ibarahim pun mengaku saudara Sarah kepada para prajurit tersebut. Begitu juga dengan Sarah, ia mengaku saudarinya Nabi Ibrahim kepada para prajurit tersebut. Kan tetapi karena kecantikannya Sarah, prajurit raja tetap bersikukuh membawa Sarah kepada sang raja.
Setelah dibawanya Sarah ke istana, sang raja pun hendak menyentuh Sarah dengan tangannya. Namun Sarah meminta kepada Allah Taala untuk melindungi dirinya, yang membuat tangan kanan sang raja tiba-tiba kaku saat hendak menjamak Sarah. Sang raja pun bertanya kepada Sarah terkait dengan apa yang dibuat Sarah kepada raja tersebut sehingga tangannya tidak bisa bergerak. Sarah pun menjawab bahwa ia meminta perlindungan kepada tuhannya, Yakni Allah Taala untuk melindunginya dari perbuatan sang raja.
Sang raja pun meminta kepada Sarah untuk memintakan kepada Allah atas kesembuhan tangannya dan berjanji untuk tidak mengganggunya lagi, yang pada akhirnya Allah megabulkannya. Akan tetapi setelah Allah menyembuhkan tangan sang raja, Sang raja pun masih belum percaya dan hendak menjamak Sarah lagi, sehingga tangan raja pun tidak bisa bergerak dan meminta Sarah untuk meminta kepada Allah agar disembuhkan tangannya.
Setelah tangan sang raja sembuh, sang raja pun hendak menjamak sarah untuk yang ketiga kali nya. Sarah pun berdoa kepada Allah agar dilindungi. Allah pun mengabulkan doa Sarah dan membuat seluruh tubuh sang raja tidak bisa bergerak semuanya, kecuali mukanya. Kemudian sang raja pun meminta kepada Sarah untuk emintakan kepada Allah agar disembuhkan untuk yang terakhir kalianya. Sarah pun mendoakannya dan sang raja tiba-tiba sembuh.
Kejadian tersebut membuat sang raja ketakutan dan meminta prajuritnya untuk mengeluarkan Sarah dari istananya, karena sang raja mengira bahwa Sarah bukan lah manusia, akan tetapi jin. Namun sebelum Sarah keluar dari istana, dengan rasa takut sang raja pun memberikan Sarah hadiah berupa budak yang bernama Hajar.
Salah satu ahli sejarah mengatakan bahwa budak yang dimaksud adalah anak kandung dari sang raja tersebut, dimana hal itu dilakukan untuk meluluhkan hati Sarah agar ketika ia keluar dari istana tidak meminta kepada Alah untuk melumpuhkan kembali sang raja Mesir tersebut. Namun dalam bayak riwayat menyatakan bahwa budak tersebut memang lah seorang budak terbaik raja yang kemudian dihadiahkan kepada Sarah.
Kemudian pergilah Sarah dan Hajar dari istana, yang pada kesehariannya Hajar menjadi pelayan dalam keluarga Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam dan Sarah. Hal tersebut terjadi sampai umur Sarah mencapai 60 tahun dan dirinya tidak dikaruniai seorang anak, yang kemudian Sarah membebaskan Hajar dari keterbudakannya dan menghadiahkannya kepada Nabi Ibrahim untuk dinikahi.
Setelah 1 tahun pernikahan tersebut, Hajar pun melahirkan seorang anak yang bernama Isma'il Alaihi as-Salam. Sehingga dengan berjalannya waktu, timbullah rasa kecemburuan Sarah terhadap Hajar, dikarenakan hajar dapat memberikan seorang anak bagi Nabi Ibrahim Alaihi as-Salam.
Kemudian Sarah pun berdoa kepada Allah Taala di waktu umurnya yang sudah tua agar dirinya dikarunia seorang anak, yang dengannya Allah Taala mengabulkannya dengan mengutus beberapa orang malaikat mendatangi rumah Nabi Ibrahim membawa 2 kabar kepadanya, yaitu akan dikaruniakannya seorang anak bagi Nabi Ibrahim dari istrinya Sarah dan kabar bahwa Allah Taala akan menghancurkan kaum Nabi Luth Alaihi as-Salam yang terkenal dengan perbuatan menyimpang mereka berbuat homoseksual.
Datangnya para malaikat yang diutus oleh Allah Taala tersebut, diceritakan oleh Allah dalam al-Quran surah al-Dzariyat ayat 24-30:
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ضَيْفِ إِبْرَٰهِيمَ ٱلْمُكْرَمِينَ
Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Az-Zariyat 51:24).
إِذْ دَخَلُوا۟ عَلَيْهِ فَقَالُوا۟ سَلَٰمًا ۖ قَالَ سَلَٰمٌ قَوْمٌ مُّنكَرُونَ
(Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaamun". Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal". (Az-Zariyat 51:25)
فَرَاغَ إِلَىٰٓ أَهْلِهِۦ فَجَآءَ بِعِجْلٍ سَمِينٍ
Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. (Az-Zariyat 51:26)
فَقَرَّبَهُۥٓ إِلَيْهِمْ قَالَ أَلَا تَأْكُلُونَ
Lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan". (Az-Zariyat 51:27).
فَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۖ قَالُوا۟ لَا تَخَفْ ۖ وَبَشَّرُوهُ بِغُلَٰمٍ عَلِيمٍ
(Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). (Az-Zariyat 51:28).
فَأَقْبَلَتِ ٱمْرَأَتُهُۥ فِى صَرَّةٍ فَصَكَّتْ وَجْهَهَا وَقَالَتْ عَجُوزٌ عَقِيمٌ
Kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: "(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul". (Az-Zariyat 51:29).
قَالُوا۟ كَذَٰلِكِ قَالَ رَبُّكِ ۖ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْحَكِيمُ ٱلْعَلِيمُ
Mereka berkata: "Demikianlah Tuhanmu memfirmankan" Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (Az-Zariyat 51:30).
Dalam ayat tersebut Allah mengisahkan datangnya para malaikat yang diutus untuk memberikan kabar gembira kepada Nabi Ibrahim tentang akan lahirnya seorang anak yang shalih bernama Ishaq Alaihi as-Salam, yang bersamaan dengan kabar tersebut para malaikat tersebut juga membawa kabar bahwa akan dihancurkannya kaum Nabi Luth karena perbuatan mereka yang melanggar agama.
Sarah pun terkejut mendengar kabar tersebut dan seakan tidak percaya bahwa dengan keadaan dirinya yang mandul dan sudah sangat tua akan dikaruniai seorang anak. Namun para malaikat tersebut meyakinkannya dengan menjelaskan bahwa tidak ada yang tidak mungkin jika Allah menghendakinya.
Setelah saran melahirkan seorang anak, kini Nabi Ibrahim sudah memiliki 2 orang anak yang bernama Ismail dan Ishaq Alaihimu as-Salam. Dinama keduanya adalah orang yang shalih dan diangkat oleh Allah sebagai seorang Nabi, serta dari keduanya pula lah lahir keturunan para nabi setelahnya hingga Nabi terkahir Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam. Sehingga dengan hal yang deikian , Nabi Ibrahim pun dikenal dengan sebutan Abu al-Anbiya' atau ayah para nabi.
The End.
Baca Juga : Muqaddimah, Pentingnya Belajar Sirah
Lihat Kajian Aslinya di You Tube : Sirah Nabawiyyah Khalid Basalamah
kisah nabi ibrahim dan ismail, kisah nabi ibrahim lengkap dengan ayat quran, kisah nabi ibrahim dan raja namrud, kisah nabi ibrahim di palestina, kisah nabi ibrahim dan istrinya, kisah nabi ismail, kisah nabi ibrahim kekasih allah, kisah nabi muhammad, abul anbiya, kisah nabi ishak
