Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Jual Beli dalam Islam

Rabu, 08 April 2020 | 05.49 WIB | 0 Views Last Updated 2020-04-08T12:49:17Z


JUAL BELI DALAM ISLAM

Jual beli narkoba di LP Muara di Padang diduga marak | merdeka.com
Gambar diambil dari merdeka.com

=======================================================
Oleh : Mohammad Suyudi
==============================================



1.      Pengertian Jual Beli
Jual beli dalam bahasa Arab berasal dari kata al-bai’, yang berarti menjual, mengganti dan menukar (sesuatu dengan sesuatu yang lain).[1] Selaras dengan definisi yang dikemukakan oleh Imam Taqiyuddin, yakni:
إِعْطَاءُ شَيْء فِى مُقَابِلَةِ شَيْء.  
“Memberikan seseuatu dengan menerima sesuatu (yang lain)”.[2]
Sedangkan menurut istilah terdapat beberapa pengertian yang dikemukakan oleh para ulama. Salah satunya adalah definisi yang dikemukakan oleh ulama madzhab Hanafi yang menyatakan bahwa  jual beli adalah saling menukar harta dengan harta melalui cara tertentu. Definisi lain juga dikemukakan oleh Imam Al-Nawawi, bahwa jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik.[3] Hal senada juga dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, bahwa jual beli merupakan tukar menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan kepemilikan.[4]
Dari berbagai definisi yang dikemukakan oleh berbagai ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa jual beli merupakan pertukaran harta dengan harta yang lain dengan saling merelakan yang mengakibatkan perpindahan hak milik. 

2.      Dasar Hukum Jual Beli
Dasar hukum jual beli adalah sebagai berikut:
a.      Al-Quran
Dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang dijadikan sebagai dasar hukum diperbolehkannya jual beli, sebagaimana Allah Taala berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 275, yakni:
وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰوا.
“Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Q. S. Al-Baqarah : 275) [5]
Ayat di atas telah menyebutkan dengan jelas terkait dengan kehalalan transaksi jual beli. Dalam sebuah tafsir, ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah Taala menghalalkan jual beli dikarenakan transaksi jual beli merupakan  transaksi yang mendatangkan faidah atau manfaat, baik untuk individu atau kelompok.[6]
Selain itu, juga terdapat dalam Al-Quran surah An-Nisa’ ayat 29, yakni:
يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوا لَاتَأْكُلُوا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ، وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ، إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُم رَحِيْمًا.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”. (Q. S. An-Nisa’ : 29). [7]

Kata tijaratan (perniagaan) pada ayat tersebut memiliki makna sebagai sarana untuk mencari penghasilan yang baik dan halal.[8] Di mana hal tersebut diajarkan oleh Allah Taala pada hamba-Nya agar digunakan sbagai sarana mencari karunianya dengancara yang halal.
b.      Al-Sunnah
Adapun dalil dari sunnah Nabi yang dijadikan landasan atas kebolehan transaksi jual beli adalah salah satu hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Rafi’ bin Khadij, yaitu:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ، حدَّثَنَا المَسْعُودِي، عَن وَائِل أَبِى بَكْرِ، عَن عِبَايَة بِنْ رَافِع بِنْ خَدِيجْ، عَنْ جَدِّهِ رَافِعْ بِنْ خَدِيجْ. قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولُ اللهِ أِيُّ كَسْبِ أَطْيَبْ؟. قَالَ: عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعِ مَبرُوْر. (رواه أحمد(
“Telah menceritakan Yazid, telah menceritakan al-Mas’udi, dari Wail Abu Bakar, dari ‘Abayah bin Rafi’ bin Khadij, dari kakeknya Rafi’ bin Khadij. Ia berkata: bahwa Rasulullah pernah ditanya: “apakah usaha yang paling baik?” Rasulullah menjawab, “usaha seseorang dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang baik’’. (HR. Ahmad).[9]

Selain dari dua sumber dalil kebolehan jual beli di atas, dalam hal ini para ulama telah sepakat akan kebolehan jual beli. Hal ini dikarenakan manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan dari manusia lainnya, yang oleh karena setiap apa yang dibutuhkannya dari orang lain itulah dibutuhkan pertukaran sebagaimana transaksi jual beli itu sendiri.[10]

3.      Rukun dan Syarat Jual Beli
Menurut jumhur ulama dalam jual beli terdapat rukun dan syarat diantaranya adalah:[11]
a.      Orang yang berakad.
       Orang yang berakad, baik penjual maupun pembeli harus memenuhi syarat sebagai berikut:[12]
1)      Berakal, yakni memiliki kemampuan untuk memilih atau membedakan mana yang terbaik baginya. Hal ini dikarenakan jual beli merupakan perbuatan untuk melepaskan kepemilikan yang diharuskan kecakapan orang yang berakad di dalamnya.
2)      Harus kehendak sendiri, yakni bukan karena suatu paksaan.
3)      Bukan pemboros, yakni kedua belah pihak yang saling mengikatkan dirinya dalam perjanjian jual beli bukan orang yang suka boros.
4)      Baligh, yakni tidak sah transaksi jual beli yang dilakukan seseorang yang belum mencapai usia yang menunjukkan ia sudah baligh, kecuali mendapat ijin dari walinya dalam hal barang yang dijadikan objek jual beli merupakan barang yang bernilai kecil dan sesuai dengan kebiasaan sehari-hari.
b.      Benda yang dijual-belikan
       Benda yang akan dijadikan objek jual beli harus memenuhi syarat sebagai berikut: [13]
1)      Harus suci dan tidak najis, artinya barang yang diperjualbelikan bukan merupakan barang yang najis atau barang yang diharamkan.
2)      Benda yang diperjual belikan harus memiliki manfaat, yakni tidak termasuk ke dalam perbuatan menyia-nyiakan harta.
3)      Bendanya harus nyata atau dapat diserahterimakan. Jadi tidak sah menjual barang yang belum nyata dan tidak dapat diserahterimakan, seperti menjual burung yang masih terbang di udara.
4)      Bendanya ada dalam kepemilikan seseorang, yang artinya benda yang akan dijual merupakan hak milik penjual atau dikuasakan kepada orang tertentu untuk dijualkan.
5)      Keberadaan barang harus diketahui oleh orang yang berakad, yang artinya bentuk, kadar dan sifat benda diketahui oleh kedua belah pihak.
c.       Shighat
       Shighat adalah proses ijab dan qabul yang dilakukan oleh pihak-pihak yang bertransaksi. Adapun syarat-syaratnya, diantaranya adalah:[14]
1)      Ijab dan qabul harus saling sesuai, yakni tidak sah jual beli bila keduanya tidak sesuai. Misal ungkapan pembeli dengan penjual yang berlainan.
2)      Ijab dan qabul harus diakukan pada waktu yang bersamaan.
d.      Nilai Tukar
       Nilai tukar adalah sesuatu yang memenuhi tiga syarat, yakni bisa menyimpan nilai (store of value), bisa menilai atau menghargakan suatu barang (unit of account) dan bisa dijadikan alat tukar (medium of exchange).[15]
       Dalam ilmu fiqih, para ulama memberikan syarat yang harus terpenuhi dalam nilai tukar. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:
1)      Harus jelas jumlahnya;
2)      Dapat diserahkan pada saat transaksi; dan
3)      Bukan barang yang diharamkan.[16]

4.      Macam-Macam Jual Beli
Dari segi hukum, jual beli terbagi ke dalam dua macam, yaitu jual beli yang sah menurut hukum (jual beli shahih) dan jual beli yang batal menurut hukum (jual beli bathil/fasid).[17] Namun dalam pendapat lainnya, jual beli terbagi ke dalam tiga macam. Ketiga macam tersebut adalah dengan membedakan antara jual beli fasid dan bathil.[18]
Jual beli yang shahih adalah setiap jual beli yang memenuhi rukun dan syarat dari jual beli. Adapun jual beli bathil adalah akad yang salah satu rukun dan syaratnya tidak terpenuhi dengan sempurna, seperti contoh jual beli yang dilakukan oleh orang gila. Sedangkan jual beli fasid adalah akad yang secara syarat rukun terpenuhi, namun terdapat masalah atas sifat akad tersebut seperti jual beli benda yang belum diketahui keberadaannya. Sedangkan jual beli bathil dan jual beli fasid merupakan jual beli yang dilarang dan bahkan para ulama sepakat bahwa kedua akad ini dilarang serta tidak diakui adanya perpindahan kepemilikan.[19]


[1] Syaifullah, “Etika Jual Beli”, Hunafa: Jurnal Studia Islamika, 2 ( Desember, 2014), hlm. 373.
[2] Taqiyuddin Abu Bakar, Kifayatu al-Akhyar fi Hali Ghayati al-Ikhtishar, (Bairut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2001), hlm. 326.
[3] Sakinah, Fiqh Mu’amalah, hlm. 29.
[4] Syaifullah, “Etika Jual Beli”, hlm. 373.
[5] Departemen Agama, al-Quran Perkata dan Tajwid Warna Rabbani,hlm. 48.
[6] Abdillah, Lubaabut Tafsir min Ibni Katsiir, hlm. 547.
[7] Departemen Agama, al-Quran Perkata dan Tajwid Warna Rabbani,hlm. 84.
[8] Abdillah, Lubaabut Tafsir min Ibni Katsiir, hlm. 280-281.
[9] Ahmad, Musnad al-Imam al-Hafidz Abi Abdillah Ahmad bin Hambal, (Riyad: Bait al-Afkar al-Dauliyah, 1998), hlm. 1244.
[10] Shobirin, “Jual Beli Dalam Pandangan Islam”, Jurnal Bisnis dan Manajemen Islam, 2 (Desember, 2015), hlm. 244.
[11] R. Abdul Djamali, Hukum Islam Berdasarkan Ketentuan Kurikulum Konsorsium Ilmu Hukum, (Bandung: Mandar Maju, 2002),hlm. 147-153.
[12] Shobirin, “Jual Beli Dalam Pandangan Islam”, hlm. 248.
[13] Ibid, hlm. 248-249.
[14] Syaifullah, “Etika Jual Beli”, hlm. 378.
[15] Shobirin, “Jual Beli Dalam Pandangan Islam”, hlm. 251.
[16] Syaifullah, “Etika Jual Beli”, hlm. 378-379.
[17] Shobirin, “Jual Beli Dalam Pandangan Islam”, hlm. 253.
[18] Siswadi, “Jual Beli dalam Perspektif Islam”, Jurnal Ummul Qura, 2 (Agustus, 2013), hlm. 64.
[19] Ibid.
×
Berita Terbaru Update